Senin, 29 November 2010

Rumput Mutiara dan Rumput Mutiara

Ada 2 jenis tumbuhan yang berbeda sama sekali satu sama lain, tetapi dalam bahasa Indonesia mempunyai nama lokal sama yakni keduanya diberi nama rumput Mutiara. Tumbuhan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Rumput Mutiara untuk penutup tanah atau untuk landscape (Pearl Grass).  Pearl dalam bahasa Indonesia memang berarti Mutiara. Mempunyai kecendrungan tumbuh ke samping dan ke samping, sehingga akan bertambah tebal dan bertambah tebal, tidak seperti rumput lain bertambah tinggi dan bertambah tinggi. Permukaan daunnnya halus, lembut, dan mengkilap seperti mutiara. Nama latinnya is may be: Axonopus compressus, famili Poaceae (dulunya disebut famili Gramineae).

2. Rumput Mutiara yang tumbuh sebagai gulma (Old World Diamond Flower). Diamond dalam bahasa Indonesia berarti Berlian. Termasuk gulma berdaun lebar dan adalah tanaman dikotil, bukan monokotil seperti rumput lain pada umumnya. Kalau ditelusuri nama latinnya adalah Hedyotis corymbosa, termasuk famili Rubiaceae. Tumbuh sebagai gulma di lapangan golf, halaman dan dimana-mana. Species-species Rubiaceae adalah Bunga-bungaan, bukan rumput-rumputan/padi2an seperti Poaceae. Jadi sebenarnya tanaman ini lebih tepat diberi nama bunga Berlian. Bagaimana kalau dari sekarang kita sebut bunga Berlian saja, supaya tidak rancu dengan rumput Mutiara penutup tanah. Untuk sementara sekarang, as long as I know, belum ada species Rubiaceae atau tumbuhan lain yang bernama Bunga Berlian, jadi nama itu masih original. La iki piye, yang dulu menamai Hedyotis corymbosa itu rumput Mutiara kok sepertinya ora mudeng taxonomi tumbuhan, atau I might be wrong. Shitsurei. Tetapi kalau ini benar dan nantinya dapat persetujuan Komisi Plasma Nuftah Indonesia, berarti melalui blog ini tercipta ide pergantian nama tumbuhan Hedyotis corymbosa dari rumput Mutiara menjadi Bunga Berlian. Sebagai tumbuhan obat, tumbuhan ini secara emperis dipercaya bisa menekan pertumbuhan sel kanker.

Minggu, 28 November 2010

Penghulu Euphorbia milis

     Bermaksud memulai aktivitas jadi plant breeder dirumah. Euphorbia menjadi pilihan pertama dengan pertimbangan : mudah dikembangbiakan, bunganya banyak, tahan kekeringan, dan banyak yang suka. Sudah terkumpul empat varitas sebagai modal awal yakni hibrid pelangi, hibrid krim, hibrid pink dan lokal merah.

   


     Umur bunga berapa hari dikawinsilangkan?. Yang mana benang sari dan dimana lokasi putiknya, sedang di bit-bit (~bahasa Bali) atau di perhatikan, dipelajari, atau dilihat-lihat. Nah, nanti kalau ada Euphorbia dengan bunga warna warni dan indah2, yang berbeda dengan yang sudah ada sekarang, itu mungkin hasil kreativitas kami.

Cara Menghadapi Tuduhan?

     Minggu lalu sepertinya Tuhan mengujiku dengan suatu kekejaman bukan main. Saya ada rencana menulis tentang " Implementasi Pembelajaran Berpusat pada Mahasiswa (SCL) Untuk Kelas Besar di Perguruan Tinggi. Hal ini sudah menjadi topik hangat dengan teman2 dari Universitas Ganesha sejak TOT (Training for Trainers) Pembelajran aktif di Makasar akhir tahun 2009 dan di Gorontalo awal tahun 2010. Perkuliahan dengan jumlah mahasiswa banyak tidak bisa dihindarkan di perguruan tinggi. Sudah dikerjakan sejak 6 bulan lalu. Artikel itu kalau sudah lumayan baik akan dikirim Profesor bidang ilmu pendidikan di Universitas Ganesha (Ibu Prof. Ketut Suarni).
     Outline sudah bisa ditulis. Beberapa hal pada setiap outline sudah bisa ditulis. Setiap ke kampus berusaha mengisi waktu dengan melakukan sesuatu, membaca atau menulis. Hal yang sudah ditulis ditambahkan lagi, dikoreksi kalimatnya, berusaha dibuat menjadi lebih kaya atau cakupannya menjadi lebih luas. Hal yang kurang penting atau tidak cocok dengan judul, dihilangkan. Berulang-ulang dilakukan hal serupa sampai dapat menulis 6 halaman.
     Dulu sebelum jadi dosen, saya pernah kerja di BIP (Balai Informasi Pertanian) selama setahun (1985-1986). Disana pekerjaannnya menulis leaflet atau brosur untuk penyuluhan pertanian. Pengalaman bekerja disana banyak bermanfaat bagi saya dalam mengasuh mata kuliah penulisan ilmiah di S1 (1998-2005). Salah satu hal yang saya ingat baik2 adalah bahwa mengedit tulisan yang baik itu adalah ditulis ulang, sambil ditambahkan supaya menjadi lebih berarti, bermanfaat untuk pembaca. Waktu itu penulisan draft masih dengan kertas dan pulpen saja. Setelah jadi, pengetikan dilakukan staf administrasi. Untuk masa sekarang apabila dilakukan dengan komputer langsung, diketik ulang diatas kalimat atau alinea yang diedit, dilengkapi, dan sempurnakan, kemudian kalimat atau alinea yang lama dihapus.
     Hal itulah yang saya lakukan. Menulis ulang alinea yang sudah ditulis sebelumnya, menambahkan dan menyempurnakannya. Daaan for my surprise ...... ada yang berteriak di telinga saya, katanya : Tulisan orang diperbaikinya!.Tuduhan itu menggelegar dan mendengung di telinga saya, yang menyebabkan saya mati suri beberapa saat sehingga tidak bisa membela diri. (Tulisan ini saya lanjutkan nanti, kalau pikiran dan hati saya sudah sejalan).

Selasa, 23 November 2010

Pewarna Rambut Alami dari Urang-aring

     Selama ini pewarna alami untuk rambut dipakai campuran Henna dan Indigo. Sudah dipromosikan tersedia di pasaran, belum pernah beli dan belum tahu beli dimana. Untuk membuatnya sendiri, Indigo mudah didapat, tumbuh dimana-mana sebagai gulma. Henna belum ketemu.
     Sudah dicoba memakai Keluwak, hasilnya tidak begitu bagus. Warna alami dari Keluwak seperti campuran warna hitam, coklat dan merah.
     Banyak pustaka membahas pewarna rambut alami. Bisa dipakai arang jerami, kopi, dan urang-aring. Mungkin masih ada bahan lain yang bisa dipakai juga.

Bekul

     Awalnya seperti tidak percaya ada bekul gede-gede. Bekul memang mirip namanya dengan Bikul, tetapi tidak ada hubungan sama sekali satu sama lain. Banyak literatur menyatakan Bekul disamping obat lapar, juga mempunyai kandungan antioksidan tinggi. Tetapi, sebaiknya tidak makan sekaligus banyak-banyak, walaupun memang enak, akan menyebabkan "puntedan", karena kandungan Taninnya juga tinggi.

Minggu, 21 November 2010

Gembili

     Pada waktu berkunjung ke rumah teman chinese, disuguhi Gembili rebus. Rasanya empuk dan sangat lembut, katanya dibeli dari Kedonganan. Setelah minta yang masih mentah, dicoba ditumbuhkan. Tumbuh baik walaupun kelihatan tidak begitu tangguh, mungkin karena ukuran benih yang ditanam terlalu kecil. Berharap bisa ikut meningkatkan ketahanan pangan dengan Gembili ini, kemudian menjadikannya komoditi ekspor (too strong vision, I suppose). Minimal bisa ikut mempertahankan keberadaan plasma nuftah yang jarang ada. Apakah Gembili sama seperti Suweg memiliki Glisemik Indeks (GI) lebih rendah (30%) dari beras?.
    

Jumat, 19 November 2010

Jamur Beracun

     Berbagai jenis jamur bisa ditemukan di alam. Ada yang bisa di makan, ada juga yang beracun. Membedakannya perlu ekspertasi dan harus sangat hati-hati. Kasus kematian karena makan jamur beracun sudah cukup banyak terjadi. Ada juga yang sengaja makan jamur beracun untuk bunuh diri. Secara berkelanjutan tulisan ini akan dikembangkan menjadi sumber informasi tentang jamur beracun.

Ini salah satu jamur yang sampelnya diambil di pinggir jalan raya di rerumputan di sebelah barat pesimpangan pura Masceti. Awalnya dilihat secara sepintas sangat mirip dengan "Oong Bulan" yang biasa dimakan, akan tetapi kemudian kalau diperhatikan lebih saksama ternyata sangat berbeda. Jamur ini mempunyai lingkar cincin di batangnya dan kalau dipatahkan, di bekas patahan berubah warna menjadi kecoklatan.